Dari pantauan redaksi, jumlah penumpang penerbangan internasional yang menggunakan bandara-bandara di Korea Selatan mengalami peningkatan sekitar 10 persen pada periode Januari hingga Agustus dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun terjadi lonjakan tajam pada harga minyak.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data dari sistem informasi portal bandara kementerian transportasi yang dirilis pada hari Sabtu, total sebanyak 68,44 juta orang menggunakan penerbangan internasional dalam delapan bulan pertama tahun ini, yang mencatatkan kenaikan sebesar 9,8 persen dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan analisis para ahli, pelemahan nilai tukar yen serta program bebas visa dari China bagi warga negara Korea Selatan turut membantu mendongkrak permintaan penerbangan menuju dan dari Jepang serta China, sementara jumlah pelancong yang menggunakan Incheon International Airport untuk transit juga meningkat di tengah situasi perang di Timur Tengah.
Berdasarkan data destinasi tujuan, jumlah pelancong yang menggunakan penerbangan yang menghubungkan Korea Selatan dan Jepang melonjak sebesar 20,3 persen secara tahun ke tahun menjadi 21,3 juta orang pada periode tersebut, sementara jumlah penumpang pada rute penerbangan China meningkat 23 persen menjadi 13,6 juta orang.
Di sisi lain, data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah penumpang yang menggunakan penerbangan dari dan menuju negara-negara Asia Tenggara justru mengalami penurunan yang cukup mencolok.
Menurut data resmi, jumlah pelancong yang menggunakan penerbangan yang menghubungkan Korea Selatan dan Vietnam turun sebesar 5,1 persen secara tahunan menjadi 6,63 juta orang, sementara jumlah penumpang untuk rute Filipina merosot 13,7 persen menjadi 2,5 juta orang.
Menurut salah seorang pengamat industri, "As fuel surcharges rose in line with a spike in oil prices, more travelers chose Japan and China as flight times to those countries are one to three hours, shorter than those to Southeast Asian nations at four to six hours."