Kecemasan tengah melanda kalangan kreator konten global menyusul kebijakan penandaan otomatis yang diterapkan oleh berbagai platform media sosial besar. Berdasarkan pantauan redaksi, banyak kreator yang mendapati karya seni murni atau suntingan manual mereka keliru disematkan label buatan kecerdasan buatan atau AI, yang kini diibaratkan sebagai stigma modern.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Salah satu insiden dialami oleh Ashton McGrady, seorang kreator yang kaget ketika TikTok menyematkan label buatan AI pada unggahan kolasenya untuk Disability Pride Month. Menurut McGrady, kejadian tersebut sangat mengganggu karena tidak sejalan dengan identitas pribadinya maupun penontonnya, mengingat inti dari profesi kreator adalah menciptakan karya secara mandiri.
Kendati platform seperti TikTok dan Instagram mengeklaim bahwa label tersebut bertujuan memberikan transparansi, proses otomatisasi yang belum sempurna justru memicu salah klasifikasi yang merugikan reputasi kreator. Sejumlah kreator lain, termasuk fotografer Gregory Littley, mengaku merasa cemas ketika foto asli atau hasil pindai polaroid milik mereka salah dituding telah dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan.
Dampak dari kesalahan pelabelan ini dinilai sangat nyata di tengah industri pemasaran influencer senilai 12 miliar dolar Amerika Serikat yang sangat mengandalkan keaslian dan koneksi manusia. Berdasarkan pengamatan industri, sentimen publik terhadap teknologi ini semakin bergeser ke arah negatif, di mana sebagian konsumen memandang teknologi tersebut sebagai gangguan negatif di ruang digital.
Bahkan, beberapa merek kini mulai memperketat aturan kerja sama dengan menyisipkan klausul khusus yang melarang kreator menggunakan teknologi kecerdasan buatan dalam proses pembuatan konten. Meskipun demikian, di sisi lain, adopsi fitur-fitur pintar telah terintegrasi secara mendalam ke dalam berbagai aplikasi penyuntingan modern, membuat para kreator berada di posisi yang dilematis antara efisiensi kerja dan ancaman stigma digital.