Kabayan Tech Kabayan Tech
/home / ai / Sam Altman Tolak IPO OpenAI di Bawah...
AI

Sam Altman Tolak IPO OpenAI di Bawah Valuasi Rp16.000 Triliun

Sam Altman selaku CEO OpenAI yang menargetkan valuasi IPO jumbo untuk bersaing dengan SpaceX

Sam Altman selaku CEO OpenAI yang menargetkan valuasi IPO jumbo untuk bersaing dengan SpaceX

CEO OpenAI, Sam Altman, dilaporkan dengan tegas menolak untuk membawa perusahaan kecerdasan buatan tersebut melantai di bursa saham jika nilai valuasinya berada di bawah 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp16.400 triliun. Saat ini, skema investasi ke OpenAI memang sudah bisa dilakukan secara tidak langsung melalui para mitranya. Namun, berdasarkan pengamatan tim redaksi, momentum Initial Public Offering atau IPO ini menjadi hal yang paling dinantikan karena akan memberi kesempatan bagi para investor untuk masuk secara langsung ke dalam ekosistem pencipta ChatGPT tersebut.

Alasan kuat di balik ketegasan Altman disinyalir muncul setelah dirinya melihat kesuksesan IPO yang diraih oleh Space Exploration Technologies atau SpaceX. Dari pantauan redaksi, tingginya permintaan publik terhadap saham SpaceX berhasil membuat kapitalisasi pasar perusahaan kedirgantaraan tersebut melonjak drastis hingga menembus angka 2 triliun dolar AS. Meski selama ini SpaceX lebih dikenal sebagai perusahaan roket, nyatanya lebih dari 90 persen potensi pasar masa depan yang mereka sasar justru berkaitan erat dengan sektor teknologi AI.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan teranyar, OpenAI berhasil mengantongi pendapatan sekitar $13 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025. Tren positif ini terus berlanjut hingga memasuki pertengahan tahun 2026, di mana penjualan korporasi tercatat menyentuh angka $2 bahkn mencapai $2 miliar dolar AS per bulan. Jika konsistensi pertumbuhan penjualan tahunan ini mampu bertahan di atas 100 persen, total pendapatan OpenAI di akhir tahun 2026 diproyeksikan bisa menembus angka $24 miliar dolar AS.

Menurut analisis para pakar keuangan, tantangan terbesar bagi OpenAI saat ini bukanlah pertumbuhan penjualan, melainkan masalah profitabilitas. Perusahaan diketahui harus menanggung kerugian bersih yang cukup membengkak hingga mencapai $38,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, ditambah kerugian bersih sebesar $8,5 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2026. Melalui langkah go public, OpenAI dinilai dapat menggalang dana segar secara cepat guna menyokong kebutuhan modal di masa mendatang.

Kondisi serupa sebenarnya juga dialami oleh divisi AI milik SpaceX yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan kilat namun masih dibayangi kerugian bersih yang masif. Berdasarkan pantauan redaksi, fenomena ini merupakan realitas industri AI global saat ini, di mana tingginya biaya pembangunan serta operasional infrastruktur pusat data atau data center memerlukan intensitas modal yang luar biasa besar, sehingga menekan margin keuntungan bersih korporasi.

Kendati OpenAI secara resmi telah mengajukan dokumen awal untuk IPO pada awal Juni lalu, para investor tampaknya harus lebih bersabar karena manajemen belum menetapkan tanggal pasti pelaksanaan penjualan saham ke publik. "Saya sama sekali tidak merasa berambisi penuh untuk menjadi CEO dari perusahaan publik. Kami juga belum memutuskan waktu pengerjaannya," ujar Altman dalam sebuah wawancara. Menurut laporan berkala dari The New York Times, pelaksanaan IPO OpenAI diprediksi baru akan terealisasi paling lambat pada tahun 2027 mendatang.

// TOPICS
#openai #sam_altman #ipo #spacex #valuasi_saham #kecerdasan_buatan #chatgpt
Jurnalis Teknologi Senior - AI & Software Development

Cici Puspasari adalah jurnalis teknologi ternama dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia teknologi digital. Spesialisasi dalam kecerdasan buatan, machine learning, dan pengembangan perangkat lunak. Mantan pengembang perangkat lunak yang beralih menjadi jurnalis untuk menyampaikan kompleksitas teknologi dengan cara yang mudah dipahami. Telah meliput berbagai konferensi teknologi global seperti Google I/O, Apple WWDC, dan Microsoft Build.