Sampah plastik kini telah menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di dunia, dengan puluhan juta ton mencemari lingkungan setiap tahunnya. Berdasarkan pantauan redaksi, akumulasi mikroplastik bahkan telah ditemukan di dalam tubuh manusia serta mencemari air hujan, yang memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan seperti gangguan kardiovaskular dan kondisi neurologis. Meskipun demikian, ketergantungan manusia terhadap plastik masih sangat tinggi dan diprediksi akan meningkat drastis pada dekade mendatang jika tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menanggapi krisis tersebut, sebuah terobosan baru berhasil diciptakan oleh para peneliti dari University of Cambridge yang memanfaatkan panel surya untuk mengatasi dua masalah sekaligus. Menurut laporan, sistem inovatif ini mampu mengambil botol plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) lalu mengubahnya menjadi bahan bakar hidrogen serta bahan kimia berguna lainnya. Proses awal melibatkan pencacahan plastik menjadi ukuran kecil, pencampuran dengan kalium hidroksida, serta pemanasan selama tiga hari untuk mengurai struktur dasar plastik sebelum dimasukkan ke dalam reaktor panel surya.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, panel surya yang digunakan dalam teknologi ini tidak berfungsi untuk menghasilkan listrik seperti pada umumnya, melainkan memicu reaksi kimia khusus yang disebut photoreforming. Lapisan fotokatalis pada panel menyerap sinar matahari untuk mengonversi cairan hasil penguraian plastik menjadi gas hidrogen. Setelah melakukan pengujian skala kecil, tim peneliti sukses membangun reaktor luar ruangan seluas 10,8 kaki persegi yang membuktikan bahwa proses ini dapat berjalan secara efektif pada skala yang lebih besar.
Kebutuhan global akan hidrogen saat ini berada dalam tingkat yang sangat tinggi, terutama untuk industri pemurnian minyak, pembuatan baja, metanol, dan amonia. Namun, sebagian besar pasokan hidrogen dunia masih berasal dari bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah besar. "Kemampuan untuk memproduksi hidrogen hijau tanpa emisi akan secara signifikan memangkas jejak karbon yang selama ini dihasilkan oleh permintaan industri," ungkap para ahli dalam laporan terkait.
Meskipun menjanjikan, tantangan komersialisasi masih menjadi hambatan utama dalam produksi hidrogen hijau karena metode konvensional seperti elektrolisis air atau pemanasan termal membutuhkan energi yang sangat besar. Untuk mengatasi kendala biaya dan stabilitas, tim peneliti Cambridge menyatakan perlunya pengembangan lebih lanjut guna mengoptimalkan penyerapan cahaya matahari dan meningkatkan daya tahan fotokatalis. Ke depannya, inovasi ini diharapkan mampu membuka peluang baru dalam menciptakan perangkat energi ganda yang tidak hanya menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada transisi energi global.