Pasar obligasi pemerintah India mengalami tekanan jual yang cukup signifikan menyusul lonjakan imbal hasil US Treasury serta kenaikan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan pantauan redaksi, kondisi makroekonomi global ini langsung berdampak negatif pada pasar keuangan domestik India dan memicu kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas ekonomi negara tersebut.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan The Economic Times, imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun atau obligasi 6,94 persen 2036 melonjak ke level tertingginya sejak September. Kenaikan tajam ini menjadi lonjakan harian terbesar dalam lebih dari dua bulan terakhir, didorong oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan inflasi akibat harga energi yang lebih tinggi.
Menurut analis pasar, tekanan dari sektor energi dan obligasi global ini membuat para pelaku pasar memperkirakan bahwa Reserve Bank of India kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga repo pada pertemuan kebijakan moneter mendatang yang dijadwalkan pada 7 Oktober. Ekspektasi pasar menyebutkan bahwa tingkat suku bunga terminal repo berpotensi naik dari level 5,75 persen menjadi 6 persen.
Dari observasi tim redaksi, gejolak di pasar obligasi ini mencerminkan tingginya kerentanan pasar keuangan domestik terhadap sentimen eksternal, terutama pergerakan nilai tukar dan komoditas global. Situasi ini memaksa investor untuk lebih berhati-hati dalam menavigasi portofolio mereka di tengah ketidakpastian ekonomi yang kian meningkat.