Berdasarkan pantauan redaksi, kinerja keuangan raksasa layanan streaming Netflix kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan perlambatan pertumbuhan pendapatan selama dua kuartal berturut-turut pada tahun 2026. Meskipun masih mencatatkan pertumbuhan dua digit, laju ekspansi bisnis perusahaan tidak lagi sepesat tahun sebelumnya yang sempat mencatat rekor tertinggi.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut laporan keuangan perusahaan, pendapatan Netflix naik 16,2% secara tahunan pada kuartal pertama 2026 dan melambat menjadi 13,4% pada kuartal kedua. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pencapaian pada kuartal keempat tahun 2025 yang sempat menyentuh level 17,6%, sementara manajemen memperkirakan pertumbuhan sekitar 12% untuk kuartal ketiga.
Dari pengamatan tim redaksi, pelemahan angka pertumbuhan ini memicu perdebatan di kalangan investor mengenai daya tarik saham Netflix saat ini, terlebih setelah harganya turun lebih dari 40% dari level tertinggi dalam 52 pekan terakhir. Sebagian analis menilai perlambatan ini lebih disebabkan oleh tantangan perbandingan angka tahun lalu yang sangat tinggi, alih-alih penurunan permintaan pasar yang signifikan.
Menurut manajemen Netflix, fundamental bisnis inti perusahaan masih terpantau sehat dengan total durasi tonton anggota melampaui 97 miliar jam pada paruh pertama tahun ini atau tumbuh 2% secara tahunan. Selain itu, lini bisnis iklan dilaporkan masih berada di jalur yang tepat untuk melipatgandakan pendapatannya hingga mencapai sekitar 3 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun ini.
Berdasarkan tinjauan profitabilitas, laba operasional Netflix justru terus menunjukkan penguatan di tengah tren perlambatan pertumbuhan pendapatan tersebut. Laba operasional kuartal kedua tercatat naik 11% secara tahunan menjadi 4,2 miliar dolar Amerika Serikat, dengan proyeksi margin operasional penuh tahun 2026 dipatok di kisaran 31,5%.