Setelah sukses membintangi karakter Batman pada tahun 1989, kemampuan komedi Michael Keaton sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan industri perfilman. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, transisi ini membuatnya lebih sering mengambil peran-peran gelap dan dramatis, meskipun ia tidak sepenuhnya meninggalkan akar komedinya melalui berbagai proyek film lain seperti "Much Ado About Nothing" dan "The Paper".
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Sentuhan pertama Michael Keaton pada genre fiksi ilmiah hadir melalui film garapan sutradara Harold Ramis berjudul "Multiplicity", sebuah komedi farce yang unik dengan premis kloning manusia. Berdasarkan sinopsis film tersebut, cerita berpusat pada Doug Kinney yang kewalahan membagi waktu antara pekerjaan konstruksi dan keluarganya, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang ilmuwan bernama Dr. Leeds yang menawarkan solusi kloning praktis.
Eksperimen kloning tersebut berlanjut ketika Doug menciptakan tiruan kedua bernama Lance untuk mengurus pekerjaan, serta tiruan ketiga bernama Rico untuk membantu urusan rumah tangga. Menurut ulasan pengamat film, situasi mulai berubah menjadi kekacauan yang mengocok perut ketika para kloningan tersebut menciptakan kloning keempat yang memiliki kepribadian unik dan lugu.
Dari pantauan redaksi, konsep cerita yang diangkat dalam film ini merepresentasikan impian setiap pekerja sibuk untuk mengatasi masalah manajemen waktu secara instan. Naskah film ini dengan sengaja mengabaikan kompleksitas moral atau dilema sains yang biasanya melekat pada tema kloning, dan lebih memilih untuk fokus pada elemen humor ringan serta penampilan prima dari Michael Keaton.
Gaya komedi yang ditampilkan dalam film ini sangat kental dengan nuansa film keluarga era 90-an yang penuh nostalgia dan klise komedi romantis. Berdasarkan analisis media hiburan, Keaton tampak sangat menikmati perannya dalam membawakan karakter yang menghibur para penonton tanpa pretensi yang berlebihan.
Kendati demikian, para kritikus dan penonton bioskop pada tahun 1996 tidak memberikan sambutan yang hangat, terbukti dari perolehan skor ulasan yang terbagi rata serta pencapaian box office yang kurang memuaskan. Namun menurut catatan sejarah perfilman modern, seiring berjalannya waktu film ini berhasil mengumpulkan status sebagai film klasik kultus yang underrated.