Berdasarkan pantauan redaksi, Bank Sentral Selandia Baru atau Reserve Bank of New Zealand mengeluarkan peringatan serius mengenai risiko kenaikan inflasi jangka pendek yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global. Gubernur RBNZ Anna Breman menyatakan bahwa eskalasi harga energi tersebut berpotensi mengerek inflasi melampaui proyeksi sebelumnya yang telah ditetapkan pada bulan September.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Observasi tim redaksi mencatat bahwa pernyataan tersebut disampaikan Breman dalam kunjungan kerjanya di Dunedin bersama pejabat komite kebijakan moneter lainnya. Isu tekanan harga ini muncul menyusul keputusan bank sentral yang sebelumnya telah menaikkan Official Cash Rate atau OCR ke level 2,75% sebagai bagian dari langkah pengetatan lanjutan.
Menurut analisis ekonomi, pemulihan ekonomi di Selandia Baru masih menunjukkan ketimpangan di berbagai wilayah, di mana wilayah Pulau Selatan cenderung mencatatkan performa lebih baik berkat dukungan ekspor dan pasar perumahan yang kuat. Namun, lonjakan harga minyak mentah yang menembus level di atas USD 100 per barel telah mendongkrak biaya bahan bakar domestik secara signifikan.
"Jika harga minyak yang lebih tinggi ini terus berlanjut, kondisi tersebut diperkirakan akan memicu inflasi jangka pendek yang lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam pernyataan resmi kami," ujar Anna Breman sebagaimana dikutip dari laporan media keuangan.
Berdasarkan perkembangan tersebut, para pengamat pasar memproyeksikan bahwa RBNZ kemungkinan besar akan kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan kebijakan berikutnya di bulan Oktober guna memastikan inflasi kembali ke kisaran target.