Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah kelompok negara industri terkemuka G7 sepakat untuk melepas hingga 100 juta barel minyak dan solar dari cadangan strategis mereka. Berdasarkan pantauan redaksi, langkah ini diambil untuk meredam lonjakan harga energi global yang kian mengetat di tengah kekhawatiran pasokan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang negaranya saat ini memegang kepemimpinan G7, mengumumkan rencana tersebut yang akan dikoordinasikan langsung oleh International Energy Agency (IEA). Kebijakan ini muncul menyusul tekanan kuat dari Washington agar negara-negara anggota segera melepas cadangan di tengah lonjakan harga solar dan pengetatan pasokan.
Menanggapi pengumuman tersebut, minyak mentah Brent sempat merosot sekitar 3% menjadi USD99,25 per barel, sementara acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) jatuh lebih dari 4% ke level USD88,92 per barel. Penurunan bahkan terjadi lebih tajam pada produk sulingan seperti gasoil Eropa yang menjadi acuan utama berjangka untuk solar.
Meskipun pasar merespons positif dengan penurunan harga jangka pendek, para analis memperingatkan bahwa masalah fundamental yang mendasarinya belum terselesaikan. Menurut pengamatan tim redaksi, persediaan global telah menyusut secara signifikan, aliran dari Teluk Persia tetap terbatas, dan kapasitas kilang menghadapi hambatan serius.
Berdasarkan data IEA, kilang-kilang di seluruh dunia mengolah minyak mentah jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya akibat gangguan di Timur Tengah dan serangan terhadap fasilitas energi. "Hingga produksi normal dan arus komersial pulih sepenuhnya, setiap pelepasan cadangan baru hanya akan mengikis bantalan pengaman pasar," ujar para analis.
Paket kebijakan G7 mencakup komitmen untuk tidak membatasi perdagangan energi antarnegara mitra serta langkah-langkah untuk mendongkrak output kilang. Namun, efektivitas jangka panjang dari pelepasan 100 juta barel cadangan ini sangat bergantung pada pemulihan arus minyak normal dari Timur Tengah dan peningkatan kinerja kilang global.