Pasar saham global, khususnya indeks S&P 500, kembali mencatatkan performa gemilang dengan kenaikan persentase dua digit sepanjang tahun ini. Kendati demikian, berbagai tanda peringatan mengenai potensi koreksi pasar semakin menguat, dipicu oleh valuasi yang berada di level tertinggi secara historis serta langkah Federal Reserve yang mulai menaikkan suku bunga acuan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan tim redaksi dari laporan keuangan dan pasar, salah satu indikator utama yang disorot adalah rasio CAPE (cyclically adjusted price-to-earnings) yang dikembangkan oleh ekonom Robert Shiller. Metrik ini mengambil harga saat ini dan membaginya dengan rata-rata pendapatan tahunan yang disesuaikan dengan inflasi selama satu dekade terakhir untuk meredam siklus fluktuasi ekonomi.
Berdasarkan catatan historis, rasio CAPE untuk S&P 500 yang biasanya berada di kisaran angka 17 kini telah melampaui angka 40. Lonjakan ekstrem serupa sebelumnya hanya pernah terjadi menjelang terjadinya gelembung dot-com pada akhir 1990-an, sebuah kondisi yang membuat para investor veteran meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kejatuhan pasar.
Selain rasio CAPE, indikator populer lain yang digemari oleh investor legendaris Warren Buffett, yakni rasio antara nilai total pasar saham (Wilshire 5000 Index) terhadap produk domestik bruto Amerika Serikat, juga melonjak hingga melampaui level 235 persen. Berdasarkan standar historis, angka di atas 120 persen mengindikasikan bahwa pasar telah berada di zona sangat overvalued atau terlalu mahal.
Di sisi lain, kebijakan pengetatan moneter oleh Federal Reserve turut menjadi perhatian utama setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuannya. Menurut data historis dari RBC Wealth Management, siklus pengetatan suku bunga kerap memicu koreksi pasar saham antara 8 hingga 14 persen, meskipun kehadiran teknologi kecerdasan buatan dan dominasi perusahaan teknologi besar saat ini memberikan dinamika yang berbeda dibanding krisis-krisis masa lalu.