Berdasarkan pantauan redaksi, ekonom asal Amerika Serikat Peter Schiff melayangkan peringatan keras mengenai potensi risiko kejatuhan atau crash pada indeks S&P 500. Di tengah posisi indeks acuan yang masih bertahan mendekati level tertingginya, Schiff menyoroti adanya pelemahan yang signifikan pada tingkat keluasan pasar atau market breadth.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pengamatan tim redaksi melalui unggahan media sosial X pada 26 September, Schiff mengungkapkan adanya perbedaan tajam di bawah permukaan pasar. Meskipun S&P 500 berada tipis di bawah rekor tertingginya, ratusan saham konstituen justru tertinggal jauh dan berada di zona merah. Ia mencatat bahwa sekitar 430 perusahaan di dalam indeks tersebut rata-rata turun lebih dari 21 persen dari puncak tertingginya.
Berdasarkan data historis, Schiff berpendapat bahwa kondisi penyempitan pasar yang ekstrem ini hanya terjadi dua kali dalam sejarah modern, yakni pada Januari 1973 serta pada era gelembung dot-com antara tahun 1999 hingga 2000. Pada kedua kesempatan tersebut, indeks S&P 500 kemudian mengalami kejatuhan hingga mendekati setengah dari nilai totalnya.
Lebih lanjut, pelemahan ini dipicu oleh dominasi saham-saham teknologi berkapitalisasi besar seperti Nvidia dan Apple yang menggerakkan sebagian besar kenaikan indeks. Sementara itu, indikator partisipasi pasar lainnya seperti rata-rata pergerakan harga saham juga menunjukkan tren penurunan, yang meningkatkan kekhawatiran koreksi tajam di tengah tekanan inflasi serta utang pemerintah.