Berdasarkan laporan keuangan kuartal kedua tahun fiskal 2026 yang berakhir pada 28 Maret lalu, Apple mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 16,6 persen secara tahunan (YoY), dengan laba bersih per saham yang melonjak 21,8 persen. Dari pantauan redaksi, lonjakan kinerja ini didorong oleh tingginya permintaan pasar global terhadap jajaran produk iPhone 17 yang memperkuat ekosistem setia pengguna Apple.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pengamatan tim redaksi, keunggulan performa saham raksasa teknologi ini juga dipengaruhi oleh pendekatan strategis perusahaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Berbeda dengan kompetitor besar lainnya yang menggelontorkan dana secara masif, Apple memilih menekan pengeluaran modal (capex) hingga hanya mencapai 4,3 miliar dolar AS pada enam bulan pertama tahun fiskal 2026. Langkah efisien ini menjaga arus kas bebas perusahaan tetap solid untuk mendanai aksi pembelian kembali saham (buyback).
Meski saham Apple tercatat meroket hingga 22 persen sepanjang tahun 2026 dan menyentuh rekor tertinggi per 20 Juli, para analis menyarankan investor untuk tetap waspada. Berdasarkan data pasar saham NASDAQ, rasio Price-to-Earnings (P/E) Apple kini menyentuh angka 39,5 yang mendekati posisi tertinggi dalam 18 tahun terakhir. Dari observasi tim redaksi, valuasi yang relatif mahal ini berpotensi meningkatkan risiko penurunan harga saham jika kinerja keuangan mendatang berada di bawah ekspektasi pasar.