Pengeluaran raksasa teknologi atau hyperscaler untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan mendekati angka fantastis USD 700 miliar pada tahun 2026. Di tengah kekhawatiran sebagian investor mengenai jangka waktu pengembalian modal, miliarder sekaligus CEO Pershing Square Capital Management, Bill Ackman, justru menunjukkan sikap optimistis terhadap prospek sektor ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan unggahan Bill Ackman di platform X, tesis optimistis tersebut didasari oleh potensi penurunan biaya token AI yang menjadi lebih terjangkau. Menurut Ackman, jika efisiensi biaya token meningkat, pengeluaran modal yang besar dari perusahaan teknologi akan semakin masuk akal dan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih tinggi.
Dari pantauan redaksi, token merupakan unit data yang diproses oleh model kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk menghasilkan teks, gambar, maupun video. Setiap pembuatan token membutuhkan daya listrik tertentu yang dipasok oleh pemroses canggih seperti chip buatan Nvidia. Efisiensi daya listrik per token dipandang sebagai kunci utama untuk memangkas biaya operasional para raksasa teknologi.
Berdasarkan laporan yang dibagikan Ackman, efisiensi ini tidak akan menurunkan permintaan chip AI melainkan justru memperluas adopsi pasar, sesuai dengan konsep "Jevons Paradox". Sebagai gambaran, pengamatan tim redaksi mencatat Microsoft berhasil memproses lebih dari 100 triliun token dalam satu kuartal pada 2025, sementara Alphabet memproses lebih dari 16 miliar token per menit pada kuartal pertama.
Menurut Ackman, pasar saat ini masih meremehkan potensi efisiensi biaya token yang sedang dioptimalkan oleh para raksasa teknologi. Hal inilah yang dimanfaatkannya untuk terus memperkuat posisi investasi pada saham-saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan dan infrastruktur AI global.