Kabayan Tech Kabayan Tech
/home / ai / Gugatan Granola Soroti Privasi...
AI

Gugatan Granola Soroti Privasi Aplikasi Pencatat Rapat Berbasis AI

Tampilan antarmuka aplikasi pencatat rapat AI di layar komputer yang sedang digunakan dalam rapat virtual

Tampilan antarmuka aplikasi pencatat rapat AI di layar komputer yang sedang digunakan dalam rapat virtual

Industri aplikasi pencatat rapat berbasis kecerdasan buatan (AI) kini tengah menghadapi sorotan tajam setelah perusahaan pengembang Granola digugat di pengadilan federal California pada 30 Juli lalu. Gugatan tersebut menuduh perusahaan secara sengaja merancang perangkat lunak yang dapat merekam percakapan tanpa memerlukan persetujuan dari semua peserta rapat, yang dianggap melanggar privasi individu.

Berdasarkan pantauan redaksi, kasus ini memperpanjang daftar masalah hukum bagi vendor teknologi AI. Sebelumnya, perusahaan serupa, yakni Otter.ai, juga menghadapi gugatan kelas tindakan serupa di distrik yang sama terkait tuduhan merekam pengguna tanpa izin dan menggunakan suara mereka untuk melatih model kecerdasan buatan.

Menurut gugatan yang diajukan oleh penduduk Florida, Tarra Chamberlain, Granola dituduh melanggar California Invasion of Privacy Act (CIPA). Tidak seperti alat pencatat lainnya yang mengharuskan bot bergabung dalam panggilan video agar peserta mengetahui kehadirannya, Granola dilaporkan menangkap audio langsung dari komputer pengguna, sehingga transkripsi dapat dilakukan tanpa terdeteksi sebagai peserta rapat.

Terkait tuduhan tersebut, dokumen pengadilan mengklaim bahwa Granola menggunakan data transkripsi secara default untuk tujuan komersial, termasuk melatih model AI mereka. Meskipun perusahaan menawarkan fitur transparansi seperti pesan otomatis dan tanda air pada video, para penggugat mengklaim bahwa Granola justru menjadikan sifat "tersembunyi" dari teknologinya sebagai keunggulan pemasaran.

Menanggapi fenomena ini, Enza Iannopollo, VP dan analis utama di Forrester, menyatakan bahwa teknologi pencatat rapat berbasis AI jauh lebih berisiko dibandingkan alat perekam tradisional. "Secara spesifik, apakah data rekaman digunakan untuk melatih model? Apakah suara digunakan untuk melatih AI lain? Bagaimana saya bisa dilupakan setelah data dan biometrik saya direkam?" ujar Iannopollo.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, meningkatnya penggunaan aplikasi AI dalam lingkungan kerja menuntut transparansi yang lebih ketat. Iannopollo menyarankan agar setiap perusahaan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap alat AI yang digunakan dan memastikan bahwa klausul kontrak selaras dengan standar manajemen risiko serta kepatuhan terhadap hukum privasi data yang berlaku.

// TOPICS
#kecerdasan_buatan #privasi_data #granola #otter.ai #teknologi #hukum_privasi #keamanan_siber
Jurnalis Teknologi Senior - AI & Software Development

Cici Puspasari adalah jurnalis teknologi ternama dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia teknologi digital. Spesialisasi dalam kecerdasan buatan, machine learning, dan pengembangan perangkat lunak. Mantan pengembang perangkat lunak yang beralih menjadi jurnalis untuk menyampaikan kompleksitas teknologi dengan cara yang mudah dipahami. Telah meliput berbagai konferensi teknologi global seperti Google I/O, Apple WWDC, dan Microsoft Build.