Space Exploration Technologies atau yang lebih dikenal sebagai SpaceX, terus menjadi sorotan di pasar saham. Perusahaan besutan Elon Musk ini menuai perdebatan sengit di kalangan pengamat finansial. Sebagian ahli meyakini perusahaan ini akan mentransformasi berbagai industri dan memberikan keuntungan besar bagi pemegang saham jangka panjang. Namun, dari pantauan redaksi, ada juga sentimen skeptis seperti yang diutarakan Jeremy Grantham, co-founder GMO LLC, yang menilai SpaceX tidak akan mampu memenuhi janji-janji manis dalam prospektus IPO mereka.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis prospektus IPO tersebut, ambisi pertumbuhan SpaceX sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk meningkatkan skala peluncuran roket dan satelit, serta bisnis AI yang baru dirintis. Menariknya, lebih dari 90 persen potensi pertumbuhan yang diklaim oleh perusahaan berfokus penuh pada peluang di sektor kecerdasan buatan tersebut. Pertanyaannya kemudian, apakah pertumbuhan AI ini mampu membenarkan valuasi SpaceX saat ini yang sudah menyentuh angka 2 triliun dolar AS?
Menurut salah satu bank investasi raksasa, Goldman Sachs, prospek tersebut sangat mungkin terjadi. SpaceX diperkirakan akan menggunakan mayoritas dana segar hasil IPO, ditambah dengan dana taktis sebesar 25 miliar dolar AS dari penawaran obligasi lanjutan, untuk berinvestasi besar-besaran dalam memperluas ekosistem AI mereka. Langkah nyata ini mencakup pembangunan infrastruktur komputasi yang lebih masif, fasilitas manufaktur chip, hingga pusat data yang berbasis di orbit bumi.
Goldman Sachs baru-baru ini mengungkapkan proyeksi optimis mereka bahwa divisi AI milik SpaceX mampu menumbuhkan pendapatannya hingga 100 kali lipat pada tahun 2030. Meskipun pendapatan AI SpaceX tahun lalu baru mencatatkan angka 3,2 miliar dolar AS, target penjualan sebesar 322 miliar dolar AS pada tahun 2030 dinilai sebagai sebuah pencapaian yang sangat impresif jika berhasil direalisasikan.
Tim redaksi mengamati bahwa Goldman Sachs merupakan salah satu penjamin emisi (underwriter) dari IPO SpaceX, sehingga proyeksi bernada optimis ini dinilai wajar. Jika prediksi itu menjadi kenyataan, valuasi SpaceX bisa meroket tajam. Mengacu pada valuasi Nvidia yang saat ini dihargai 19,7 kali lipat dari nilai penjualan, SpaceX berpotensi memiliki nilai kapitalisasi pasar sekitar 6,3 triliun dolar AS. Dengan perhitungan tersebut, investasi sebesar 500.000 dolar AS saat ini diprediksi bakal membengkak menjadi sekitar 1,6 juta dolar AS pada tahun 2030.
Kendati demikian, realita di lapangan mungkin tidak akan berjalan semulus kalkulasi di atas. Hingga saat ini, SpaceX dilaporkan masih menjadi perusahaan yang mengalami kerugian secara operasional. Kondisi keuangan ini kemungkinan besar akan memaksa mereka untuk menerbitkan lebih banyak lembar saham baru dalam beberapa bulan atau tahun ke depan. Selain itu, ada kekhawatiran dari sejumlah investor mengenai fenomena gelembung AI (AI bubble) yang dinilai berisiko menggelembungkan valuasi saham teknologi secara berlebihan.