Jeremy Grantham, salah satu pendiri GMO LLC perusahaan manajemen aset yang mengelola dana sekitar 70 miliar dolar AS, baru-baru ini memberikan peringatan keras terkait saham Space Exploration Technologies atau SpaceX. Dari pantauan redaksi, tokoh veteran Wall Street yang terkenal akurat dalam memprediksi peristiwa besar pasar seperti gelembung dot-com dan krisis finansial 2008-2009 ini, menilai valuasi pasar saat ini sudah terlalu tinggi.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam sebuah wawancara di podcast "The Diary of a CEO" bersama Steven Bartlett, Grantham secara terbuka meragukan keberhasilan jangka panjang SpaceX setelah melakukan penawaran umum perdana atau IPO. "Saya pikir perusahaan ini akan gagal memenuhi apa pun yang dijanjikan dalam prospektusnya. Ya, tentu saja," tegas Grantham saat ditanya mengenai potensi keberhasilan SpaceX ke depan.
Berdasarkan pengamatan Grantham, narasi pertumbuhan yang diusung SpaceX dinilai terlalu spekulatif dan menyerupai fenomena puncak pasar historis. "SpaceX adalah cerita omong kosong yang luar biasa. Menambang asteroid, kesuksesan AI yang masif dan luar biasa. Ini adalah deskripsi klasik dari puncak pasar. Itulah yang Anda cari di puncak gelembung yang luar biasa," ujarnya menambahkan.
Kendati bersikap bearish terhadap saham SpaceX secara keseluruhan, Grantham sejatinya mengagumi salah satu lini bisnis utama perusahaan, yaitu layanan internet Starlink. Menurut pengamatan tim redaksi, Starlink merupakan satu-satunya unit bisnis SpaceX yang saat ini telah mencetak profit dengan tingkat pertumbuhan pendapatan dan margin kotor yang mengesankan.
Grantham mengakui bahwa Starlink adalah ide bisnis yang sangat bagus karena terbukti menghasilkan uang. Ia bahkan menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi jika saham yang ditawarkan hanya mencakup Starlink. Namun, kenyataannya sebagian besar valuasi raksasa SpaceX justru terikat pada proyek-proyek spekulatif lain yang membutuhkan modal sangat besar.
Untuk merealisasikan potensi penuhnya seperti meluncurkan pusat data ke luar angkasa, membangun koloni manusia permanen di bulan, hingga meningkatkan skala pusat data AI, SpaceX membutuhkan dana yang melimpah. Menurut Grantham, selama ini Elon Musk sangat diuntungkan oleh keberuntungan dan momentum pasar yang bullish untuk menggalang dana bagi usaha spekulatifnya, mirip dengan strategi yang berhasil diterapkan pada Tesla.
Namun, situasi pasar diperkirakan tidak akan selalu berpihak pada SpaceX. Berdasarkan analisis para analis dari Morningstar, jika pasar mengalami tren bearish dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, harga saham SpaceX berpotensi merosot tajam dari 160 dolar AS menjadi 63 dolar AS per lembar, yang dianggap sebagai nilai intrinsik aslinya. Hal ini otomatis akan memangkas kapitalisasi pasar SpaceX hingga di bawah 1 triliun dolar AS.
Menurut laporan keuangan terbaru, SpaceX tercatat masih belum menghasilkan keuntungan dan membukukan kerugian hampir 5 miliar dolar AS pada tahun lalu. Bahkan, dari pantauan redaksi pada kuartal pertama tahun 2026, SpaceX mencatatkan kerugian bersih mencapai 4,3 billion dolar AS, hampir menyamai total kerugian sepanjang tahun 2025 akibat pengeluaran yang terus membengkak.
Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung lama karena Goldman Sachs memproyeksikan SpaceX bakal menghasilkan arus kas bebas negatif sebesar 105 miliar dolar AS pada tahun 2029. Hal inilah yang menjadi inti argumen Grantham, di mana SpaceX akan terus bergantung pada penggalangan dana dari luar, sehingga jika kondisi pasar modal memburuk, narasi investasi SpaceX dapat runtuh dengan cepat.