Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kini berada dalam situasi dilematis yang pelik dalam upaya mengendalikan inflasi di Amerika Serikat. Berdasarkan pantauan tim redaksi, bank sentral tidak hanya harus berhadapan dengan tekanan harga akibat kebijakan pemerintah, melainkan juga dampak dari ekspansi pesat sektor kecerdasan buatan atau AI.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan resmi, Federal Open Market Committee (FOMC) baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 hingga 4,00 persen pada bulan September ini. Kebijakan tersebut diambil menyusul tingkat inflasi yang terus bertahan di atas target jangka panjang 2 persen selama lebih dari lima tahun berturut-turut.
Menurut analisis pasar, tekanan inflasi saat ini dipicu oleh dua faktor utama yang dikenal sebagai Trumpflation serta lonjakan harga akibat pembangunan infrastruktur AI. Kebijakan tarif perdagangan global serta konflik geopolitik yang menutup jalur pelayaran penting turut mendongkrak biaya produksi serta harga energi secara signifikan.
Di sisi lain, revolusi kecerdasan buatan yang menjadi motor utama penggerak pasar saham Wall Street justru turut menyumbang tekanan inflasi tambahan. Tingginya permintaan perangkat keras seperti unit pengolah grafis dan peladen berkapasitas besar membuat perusahaan membebankan biaya tinggi tersebut kepada konsumen akhir.
Observasi tim redaksi mencatat bahwa langkah agresif Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi berpotensi mengancam kelangsungan reli pasar saham. Peningkatan biaya pinjaman dapat memperlambat belanja infrastruktur teknologi dan memicu risiko koreksi tajam pada valuasi saham korporasi besar.