Menjelang pelaksanaan pemilu sela Amerika Serikat pada bulan November mendatang, para investor di Wall Street mulai mempertanyakan apakah perubahan kekuasaan di Washington, D.C. akan berdampak signifikan terhadap pasar saham. Secara historis, politik jangka pendek cenderung tidak memberikan pengaruh jangka panjang yang besar terhadap pergerakan bursa.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan riset dari U.S. Bancorp pada tahun 2024, dinamika pemilu presiden maupun pemilu sela umumnya tidak terlalu memengaruhi arah pasar secara drastis. Analisis bank tersebut menunjukkan bahwa pergerakan indeks S&P 500 jauh lebih dipengaruhi oleh tren pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan serta tingkat inflasi dibandingkan hasil pemilu tertentu.
Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa satu skenario hasil pemilu sela tertentu berpotensi menghadirkan sentimen negatif bagi harga saham. Skenario tersebut dikhawatirkan bakal benar-benar terjadi dalam pemilihan umum yang dihelat pada bulan November ini.
Menurut proyeksi FiftyPlusOne 2026 Congressional Forecast berdasarkan jajak pendapat terbaru, Partai Demokrat memiliki peluang besar untuk merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat serta Senat Amerika Serikat. Jika hal tersebut terwujud, Amerika Serikat akan dipimpin oleh pemerintahan terbelah, di mana Presiden Trump dari Partai Republik berada di Gedung Putih sementara Kongres dikuasai oleh Partai Demokrat.
Observasi tim redaksi dari data historis U.S. Bancorp mengindikasikan bahwa kombinasi kekuasaan semacam ini merupakan satu-satunya skenario pemilu sela yang kerap mencatatkan kinerja pasar yang kurang memuaskan. Data masa lalu memperlihatkan bahwa konfigurasi tersebut cenderung menghasilkan imbal hasil S&P 500 dalam tiga bulan yang lebih rendah dibanding periode normal lainnya.
Meskipun demikian, para pengamat menilai bahwa penurunan imbal hasil pasca-pemilu dengan pemerintahan terbelah biasanya hanya bersifat sementara dan dalam persentase yang moderat. Oleh karena itu, para investor jangka panjang disarankan untuk tetap fokus pada strategi investasi jangka panjang alih-alih panik menghadapi gejolak politik jangka pendek.
Berdasarkan analisis lanjutan, kinerja indeks S&P 500 dalam kurun waktu satu tahun setelah pemilu sela secara konsisten justru menunjukkan hasil yang positif terlepas dari partai mana yang menguasai Kongres. Kondisi ini kerap didorong oleh meredanya ketidakpastian politik serta kembalinya fokus pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi yang kuat.
Secara jangka panjang, indeks S&P 500 terbukti konsisten mencatatkan pertumbuhan positif tanpa memandang partai politik mana yang sedang memegang kekuasaan di pemerintahan pusat. Sejak tahun 1928, indeks utama ini mampu menghasilkan tingkat pengembalian tahunan yang stabil di tengah berbagai dinamika politik yang silih berganti.