Novel terkenal asal Prancis abad ke-19, Honore de Balzac, pernah menyatakan bahwa di balik setiap kekayaan besar selalu terdapat kejahatan besar. Ungkapan tersebut tampaknya semakin relevan di era modern ini, terutama jika melihat bagaimana industri kecerdasan buatan raksasa atau Big AI yang mencakup Anthropic, OpenAI, Google, dan perusahaan teknologi lainnya membangun kekayaan senilai triliunan dolar. Pelatihan kecerdasan buatan generatif atau generative AI menuntut pasokan teks dalam jumlah masif, di mana materi berkualitas tinggi dari buku serta artikel media terbukti membuat sistem AI berkembang jauh lebih cerdas dengan cepat dibandingkan hanya mengandalkan percetakan media sosial.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, fenomena ini sering kali disebut sebagai salah satu pencurian kekayaan intelektual terbesar dalam sejarah umat manusia dengan nilai mencapai miliaran dolar. Buku, artikel, karya musik, foto, hingga karya seni yang diciptakan oleh jerih payah manusia kerap diambil dan dicerna oleh sistem AI tanpa izin, lalu dimonetisasi untuk menghasilkan keuntungan besar bagi pengembangnya. Penulis Preston Gralla mengungkapkan bahwa dirinya sendiri mengalami pengalaman serupa, di mana puluhan buku serta ribuan artikel hasil karyanya diduga kuat digunakan oleh perusahaan-perusahaan AI untuk melatih model mereka tanpa persetujuan.
Bagi para petinggi industri teknologi, tindakan mengambil data tanpa izin tersebut telah lama dianggap sebagai prosedur standar operasional yang biasa. Oleh karena itu, dunia teknologi sempat dikejutkan ketika CEO Microsoft Satya Nadella secara terbuka melontarkan kritik terhadap sesama raksasa AI atas kemunafikan mereka. Menurut Nadella dalam unggahannya di platform X, sangat ironis ketika para penyedia model AI berlindung di balik hak penggunaan wajar atau fair use untuk melatih data publik, namun di sisi lain justru memberlakukan ketentuan restriktif terhadap teknik distilasi yang dipakai perusahaan AI yang lebih kecil.
Distilasi sendiri merujuk pada teknik pelatihan AI di mana keluaran dari satu model AI dimanfaatkan untuk melatih model AI milik pihak lain. Pengamat industri mencatat bahwa seluruh ekosistem kecerdasan buatan sebenarnya telah lama dibangun di atas fondasi teknik distilasi dan pembelajaran rekursif yang serupa. Isu ini mendadak menjadi perdebatan panas setelah perusahaan-perusahaan asal Tiongkok mulai gencar menggunakan teknik distilasi untuk mengejar ketertinggalan teknologi dari perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat, yang kemudian memicu desakan dari para eksekutif seperti Sam Altman agar pemerintah mengambil tindakan hukum.
Kendati demikian, pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa kritik yang dilayangkan oleh Satya Nadella tidak serta-merta membersihkan nama Microsoft dari persoalan serupa. Microsoft dinilai sama bersalahnya dalam hal dugaan pencurian kekayaan intelektual, mengingat fitur AI Copilot pada produk mereka didukung oleh teknologi chatbot dari OpenAI dan Anthropic. Perusahaan multinasional tersebut saat ini juga tengah menghadapi berbagai gugatan hukum besar terkait pelanggaran hak cipta yang dilayangkan oleh sejumlah surat kabar terkemuka seperti The New York Times, puluhan media lokal, serta para penulis peraih penghargaan bergengsi.