Berdasarkan pantauan redaksi, pasar keuangan global bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa seiring dinamika geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta fluktuasi di pasar obligasi. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) serta pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data pasar, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sempat mencapai level tertingginya sejak 2007 di angka 5,3 persen sebelum akhirnya berada di level 5,24 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi bahwa peningkatan belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence akan memicu pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut pengamatan tim redaksi, bank sentral di berbagai negara, khususnya Federal Reserve, diperkirakan harus memperketat kebijakan moneter mereka di tengah kenaikan harga minyak dunia. Situasi ini memicu tekanan jual di pasar obligasi global di tengah kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten serta utang korporasi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap laporan pelonggaran sanksi bagi Iran, yang membuat harga minyak mentah Brent pengiriman November naik 0,5 persen menjadi 103,1 dolar Amerika Serikat per barel. Berkaitan dengan hal tersebut, Mohsen Rezaei selaku sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Donald Trump berada dalam dilema politik yang sulit.
Sementara itu, bursa saham Eropa dan Asia turut bergerak beragam merespons sentimen global, data kepercayaan konsumen, serta berbagai kebijakan bank sentral di tengah tantangan ekonomi makro yang masih berlangsung.