Space Exploration Technologies atau yang lebih dikenal sebagai SpaceX mengalami pergerakan saham yang cukup fluktuatif sejak penawaran umum perdana atau IPO. Berdasarkan pantauan redaksi, saham perusahaan sempat melesat hingga USD 225 per lembar sebelum akhirnya terkoreksi lebih dari 50 persen dan kini diperdagangkan pada kisaran USD 150 per lembar.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam jangka pendek, tekanan pada saham ini berpotensi berlanjut akibat aksi penjualan oleh investor awal dan pihak internal seiring berakhirnya masa penguncian saham menjelang akhir tahun. Kendati demikian, CEO SpaceX Elon Musk menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjual kepemilikan saham miliknya.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, SpaceX menetapkan target ambisius untuk mencapai pendapatan tahunan sebesar USD 1 triliun pada tahun 2030 mendatang. Menurut manajemen perusahaan, lonjakan pendapatan ini akan didorong oleh ekspansi besar-besaran pada segmen kecerdasan buatan, terutama melalui penyewaan kapasitas komputasi atau compute capacity kepada sejumlah perusahaan teknologi terkemuka.
Keunggulan kompetitif SpaceX terlihat dari efisiensi modal yang luar biasa dengan periode pengembalian modal atau payback period kurang dari satu tahun untuk penyebaran infrastruktur komputasi baru. CFO SpaceX Bret Johnsen menyatakan bahwa efisiensi tersebut memberikan tingkat pengembalian yang sangat tinggi dibandingkan dengan para pemain industri lainnya.
Analis Wall Street memperkirakan pendapatan terkait kecerdasan buatan SpaceX dapat mencapai USD 530 miliar pada tahun 2031, dengan tambahan kontribusi dari bisnis komunikasi Starlink serta layanan peluncuran roket. Jika proyeksi tersebut tercapai dengan asumsi valuasi rasio harga terhadap penjualan sebesar 6 kali, maka investasi senilai USD 1.000 saat ini berpotensi bernilai hingga USD 1.770 pada tahun 2031.