Berdasarkan pantauan redaksi, dolar Amerika Serikat berhasil mencatatkan lonjakan signifikan hingga mencapai level tertinggi dalam 17 bulan terhadap euro pada perdagangan hari Kamis, didorong oleh aksi jual obligasi global yang menyeret imbal hasil pemerintah Amerika Serikat dan Eropa ke posisi puncak baru di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Mata uang tunggal Eropa tersebut merosot di bawah level $1,1215 untuk kali pertama sejak Mei 2025 terhadap dolar, yang memang menunjukkan tren penguatan dalam beberapa bulan terakhir berkat lonjakan kuartalan terbesar pada imbal hasil Treasury sejak tahun 1994.
Menurut Brian Daingerfield selaku Kepala Strategi Valas G10 di NatWest Markets, "Imbal hasil yang lebih tinggi telah didorong oleh kombinasi berbagai faktor, khususnya kekhawatiran mengenai kebijakan fiskal termasuk beberapa pelemahan di pasar obligasi Prancis yang dapat merembet ke pasar global, serta kekhawatiran berkelanjutan seputar harga energi dan inflasi yang lebih tinggi."
Dari pantauan tim redaksi, imbal hasil obligasi acuan Amerika Serikat tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertingginya sejak tahun 2002 pada hari yang sama sebelum mengalami sedikit penurunan, sementara imbal hasil utang Prancis melonjak ke rekor tertinggi dalam 14 tahun akibat kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara tersebut.
Menurut Amo Sahota selaku Direktur di Klarity FX, "Kenaikan dolar Amerika Serikat ini telah terjadi selama beberapa pekan terakhir, namun narasi terbaru di pasar Eropa menjadi yang paling meresahkan akibat kepanikan atas utang Prancis yang terlalu tinggi serta pelebaran selisih imbal hasil antara Prancis dan Jerman."
Meskipun data pada hari Rabu menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada Agustus naik lebih rendah dari perkiraan dan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat dalam waktu dekat, lonjakan inflasi di zona euro tetap memperlihatkan ancaman nyata dari tingginya harga energi terhadap perekonomian global.