Berdasarkan pantauan redaksi terhadap laporan pasar global terkini, harga minyak dunia kembali bergerak di atas 100 dolar AS per barel pada September menyusul lonjakan risiko geopolitik. Situasi ini berkaitan erat dengan serangan terhadap infrastruktur energi serta belum adanya penyelesaian dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut melibatkan kelompok milisi di kawasan tersebut.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pengamatan tim redaksi, pasar minyak global menghadapi tekanan berat akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah yang membatasi arus ekspor minyak mentah. Penurunan pasokan ini terjadi di tengah penurunan persediaan minyak global yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam laporan resmi Badan Energi Internasional atau IEA, penurunan permintaan minyak global diperkirakan mencapai rata-rata 2,5 juta barel per hari sepanjang 2026. Penurunan konsumsi ini dipicu oleh pembatasan impor serta pemangkasan pengilangan domestik yang dilakukan oleh China guna merespons ketatnya pasokan energi dunia.
Kendati demikian, para produsen utama di kawasan Teluk terus berupaya mengoptimalkan jalur alternatif untuk memulihkan volume ekspor minyak mereka. Berdasarkan data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC, produksi minyak regional menunjukkan peningkatan secara berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir guna meredam lonjakan harga lebih lanjut.