Hingga beberapa waktu lalu, sebagian besar profesional di bidang teknologi menganggap diri mereka sebagai kelas pekerja istimewa yang sangat dihargai. Mereka berpendidikan tinggi, bekerja keras, menerima gaji besar, dan selalu dicari oleh bursa kerja. Menurut pernyataan Zak Thompson, seorang insinyur perangkat lunak senior di Kickstarter sekaligus pengurus serikat pekerja di Kickstarter United, para pekerja teknologi tersebut pada awalnya menganggap posisi mereka berada di atas serikat pekerja karena merasa diistimewakan oleh manajemen.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Namun, kondisi industri kini telah berubah drastis dan memicu ketegangan baru. Berdasarkan pantauan redaksi, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dimulai sejak tahun 2022 serta kecemasan terhadap implementasi kecerdasan buatan (AI) yang mengancam eksistensi para pemrogram telah membalikkan keadaan. Situasi tersebut secara tajam meningkatkan minat para profesional IT untuk melirik serikat pekerja sebagai benteng perlindungan karier mereka.
Menurut Alan McAvinney, seorang insinyur perangkat lunak Google sekaligus ketua pengorganisasian Alphabet Workers Union-CWA, gelombang PHK besar-besaran telah menggeser keseimbangan kekuatan di industri secara dramatis. Bagi McAvinney, titik balik personalnya terjadi pada tahun 2019 ketika Google memecat empat karyawan secara retaliatif setelah mereka bersuara menentang kebijakan internal perusahaan. Insiden tersebut menjadi pemicu utama lahirnya Alphabet Workers Union (AWU) pada tahun 2021 untuk mewadahi aspirasi karyawan.
Meskipun minat berserikat melonjak tajam, dari pengamatan tim redaksi hal ini belum sepenuhnya tecermin dalam statistik keanggotaan nasional di Amerika Serikat. Data dari Labor Policy Project di Mercatus Center menunjukkan keanggotaan serikat pekerja di sektor teknologi masih tertahan di angka 3,5% pada tahun 2025. Kendati demikian, survei dari platform Blind mencatat bahwa 67% profesional teknologi menyatakan sangat atau cukup tertarik untuk bergabung jika perusahaan mereka menyediakan wadah serikat pekerja resmi.
Kekhawatiran bahwa AI akan menggeser tenaga kerja manusia secara massal juga menjadi bahan bakar utama gerakan ini. Menurut Kate Bronfenbrenner, direktur riset pendidikan tenaga kerja dari Cornell University, pekerja tidak hanya cemas kehilangan pekerjaan, tetapi juga merasa keahlian mereka didevaluasi saat upah dan tunjangan menurun. Penggunaan AI oleh korporasi besar seperti Meta untuk memantau aktivitas mengetik dan gerakan tetikus karyawan bahkan dinilai menciptakan atmosfer distopia yang menakutkan bagi para staf.
Di sisi lain, beberapa ekonom bisnis konservatif berpendapat bahwa model tawar-menawar kolektif dari serikat pekerja tidak cocok untuk sektor teknologi yang dinamis dan inovatif. Menurut pandangan mereka, kontrak serikat pekerja cenderung membatasi fleksibilitas perusahaan dalam merestrukturisasi tim atau menyesuaikan peran dengan cepat. Namun, gerakan ini diprediksi akan terus bergulir dalam jangka panjang karena para pekerja kini beralih dari sekadar berharap memiliki serikat menjadi mencari cara konkret untuk merealisasikannya.