Harga minyak dunia mencatatkan kenaikan lebih dari 1 persen pada perdagangan hari Kamis, didorong oleh minimnya kemajuan dalam perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan pantauan redaksi, para investor di pasar energi juga tengah fokus memantau ketidakpastian seputar potensi larangan ekspor solar oleh Amerika Serikat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat naik USD 1,63 atau 1,58 persen menjadi USD 104,71 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate turut mengalami penguatan sebesar USD 1,34 atau 1,49 persen ke level USD 93,53 per barel.
Lonjakan harga ini sempat membawa Brent menyentuh level tertinggi di angka USD 106,50 per barel pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi menyusul laporan yang menyebutkan bahwa Iran memberikan batas waktu satu minggu bagi Amerika Serikat untuk memenuhi tuntutan publiknya, termasuk pencabutan blokade laut.
Menurut seorang pejabat senior Iran, kedua negara masih terbelah mengenai cara mengakhiri konflik mereka, namun dialog diplomatik harus terus berjalan. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Iran menegaskan di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Tehran tidak akan pernah menyerah pada tekanan Amerika Serikat.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, pasar fisik minyak saat ini masih jauh dari kata normal akibat tingginya premi risiko geopolitik. "Brent mempertahankan premi geopolitik dan jalur laut yang lebih besar karena minyak mentah internasional lebih langsung terpapar oleh gangguan di Timur Tengah dan Selat Hormuz," ujar Priyanka Sachdeva selaku kepala wawasan pasar di Phillip Nova.
Di sisi lain, data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan adanya penurunan stok distilat termasuk minyak solar dan minyak pemanas sebesar 428.000 barel pada pekan lalu. Sebaliknya, persediaan minyak mentah domestik Amerika Serikat justru mengalami kenaikan sebesar 3 juta barel, melampaui ekspektasi para analis di pasar.