Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini tengah terlibat dalam persaingan ketat untuk menguasai teknologi kecerdasan buatan global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menegaskan ambisinya sekaligus menganggap Tiongkok sebagai rival utama dalam perlombaan teknologi tersebut. Berdasarkan pantauan redaksi, pertemuan antara kedua pemimpin negara ini menjadi momentum krusial untuk membahas masa depan perkembangan kecerdasan buatan dunia yang semakin masif.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Rebecca Arcesati dari Mercator Institute for China Studies, Tiongkok memandang kecerdasan buatan sebagai sebuah perlombaan sekaligus alat untuk memaksimalkan kekuatan nasional. Di sisi lain, Presiden Trump menilai bahwa mengalahkan Tiongkok dalam supremasi kecerdasan buatan jauh lebih penting daripada risiko teknologi tersebut bagi manusia. "China sangat melihat ini sebagai sebuah perlombaan dan kekuatan pendorong utama," ujar Rebecca Arcesati menggambarkan ambisi Beijing.
Dari pengamatan tim redaksi, persaingan kedua negara adidaya ini memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal pengembangan model teknologi. Perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat mendominasi model kecerdasan buatan terdepan melalui pendanaan besar dan infrastruktur canggih dari perusahaan seperti Anthropic, Google, dan OpenAI. Sementara itu, Tiongkok lebih memilih fokus pada perilisan model bobot terbuka yang dapat diunduh serta disesuaikan secara bebas, seperti yang ditunjukkan oleh Moonshot AI dengan model Kimi K3.
Meskipun Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ekspor cip mikrocip canggih ke Tiongkok, para pengembang di Tiongkok tetap menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Menurut analis Lizzi Lee dari Asia Society Policy Institute, strategi Tiongkok berfokus pada penyebaran teknologi secara luas dan murah ke seluruh perekonomian untuk mendapatkan keuntungan geopolitik. Selain itu, keunggulan Tiongkok juga didukung oleh pasokan listrik berbiaya rendah serta dominasi mereka sebagai produsen robot terbesar di dunia.
Pendekatan kedua negara terhadap regulasi dan keselamatan kecerdasan buatan juga menunjukkan perbedaan yang cukup kontras. Pemerintahan Presiden Trump cenderung menghindari regulasi ketat demi menjaga kecepatan inovasi di laboratorium domestik. Sebaliknya, Presiden Xi Jinping mendorong pendekatan yang lebih terpusat dan hati-hati untuk memastikan teknologi tetap berada di bawah kendali manusia. Menjelang pertemuan puncak ini, para pejabat tinggi kedua negara diharapkan mampu membangun mekanisme komunikasi guna mengantisipasi risiko global kecerdasan buatan.