Pasar ponsel pintar kembali dihangatkan dengan kehadiran lini seri terbaru dari Apple, yakni iPhone 18 Pro, yang hadir dengan berbagai pembaruan minor pada fondasi yang sudah akrab di pasaran. Meskipun menawarkan beberapa fitur menarik untuk memikat konsumen, angka awal menunjukkan bahwa permintaan terhadap lini iPhone 18 Pro cenderung lebih lambat dari biasanya. Berdasarkan pantauan redaksi, perhatian para pengamat teknologi kini beralih pada komponen esensial yang menopang mobilitas perangkat, yaitu baterai, serta perbandingannya dengan pabrikan ponsel asal China seperti OnePlus.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari segi spesifikasi teknis, varian reguler iPhone 18 Pro dibekali dengan baterai berkapasitas 4.056 miliampere-jam (mAh), sementara model iPhone 18 Pro Max mengandalkan daya sebesar 5.391 mAh. Angka tersebut hanya mengalami sedikit peningkatan dibandingkan pendahulunya, meskipun perangkat ini dibanderol dengan harga mulai dari US1.199atausekitarRp18jutalebih.Disisilain,OnePlusjustrumembuatgebrakanlewatliniponselkelasmenengahnya,salahsatunyaada250 saja.
Perkembangan teknologi baterai ini tidak lepas dari inovasi anoda silikon-karbon yang kini banyak diadopsi oleh ponsel-ponsel Android asal China guna memperpanjang masa pakai tanpa membuat bodi perangkat membengkak seperti batu bata. Menurut penjelasan para ahli material, penggunaan bahan karbon konvensional berupa grafit pada baterai lithium-ion memiliki keterbatasan dalam penyimpanan energi, sedangkan silikon murni memiliki kapasitas sepuluh kali lipat lebih besar meskipun cenderung lebih volatil dan rentan memuai. Oleh karena itu, penggabungan keduanya menjadi solusi hibrida yang memberikan pasokan energi jauh lebih besar bagi para pengguna agar bisa lebih lama lepas dari pengisi daya.
Kendati demikian, raksasa teknologi seperti Apple dan Google sejauh ini terpantau masih berhati-hati dan belum mengadopsi teknologi silikon-karbon secara massal pada perangkat mereka karena faktor keandalan. Di sisi lain, Samsung baru saja mulai mengintegrasikan komponen serupa pada lini ponsel lipat Galaxy Z Fold 8. Menanggapi fenomena persaingan ini, tim redaksi mengamati bahwa "konsumen kini semakin dimanjakan dengan kapasitas daya yang masif tanpa harus mengorbankan portabilitas perangkat harian mereka" di tengah persaingan industri seluler yang semakin ketat.