Berdasarkan laporan dari Time magazine yang dikutip dari TechCrunch, sebuah fakta menarik terungkap mengenai keterlibatan teknologi kecerdasan buatan dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Pada Desember 2025 lalu, sekitar satu bulan sebelum invasi militer Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, Presiden Donald Trump dilaporkan mengadakan pertemuan rahasia dengan Elon Musk.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pengamatan tim redaksi dari informasi yang dihimpun, pertemuan tersebut terjadi sekitar tujuh bulan setelah Elon Musk meninggalkan perannya di pemerintahan Trump dalam Departemen Efisiensi Pemerintahan atau Department of Government Efficiency. Dalam pertemuan tertutup itu, Trump menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk berdiskusi dan berkonsultasi dengan chatbot AI buatan xAI milik Musk, yakni Grok.
Berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, interaksi tersebut mencakup pertanyaan mengenai bagaimana kemungkinan reaksi rakyat Venezuela apabila pemimpin mereka ditangkap. Berdasarkan analisis yang disampaikan oleh Grok, Nicolás Maduro disebut sebagai seorang "diktator yang sangat tidak populer dan banyak warga Venezuela yang kemungkinan akan merayakan kejatuhannya", sebagaimana dilaporkan oleh Time.
Ketika perayaan dan reaksi tersebut benar-benar terjadi pasca-invasi Amerika Serikat pada 3 Januari, Donald Trump dilaporkan sangat terkesan dan menganggap Grok sebagai teknologi yang "jenius". Hal ini tidak terlepas dari situasi sebelumnya di mana banyak pihak telah memanfaatkan Grok untuk memahami iklim politik serta serangan militer terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di Venezuela.
Menurut pantauan redaksi, pengaruh teknologi besutan Elon Musk di sektor pertahanan semakin menguat seiring dengan kebijakan militer Amerika Serikat. Pada Juni tahun ini, kepala bidang kecerdasan buatan Pentagon mengungkapkan bahwa militer menggunakan versi khusus Gov Grok untuk mengerahkan serta menyerang target dalam konflik Iran.
Selain itu, keterlibatan Elon Musk dalam lingkaran kebijakan militer semakin nyata ketika Pentagon mengumumkan bahwa Musk bersama Palmer Luckey dari Anduril ditunjuk untuk memimpin studi bersama mengenai pemanfaatan teknologi canggih di medan pertempuran modern.